Sabtu, 01 Oktober 2011

tugas metode riset 2

Analisis 1 :
EVALUASI STRATEGI PEMASARAN PADA LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR PRIMAGAMA CABANG SUTOYO SEMARANG
Rosemeilia Yeny Artati, SE
9 April 2007

Dengan AFTA dan pengembangan infrastruktur telekomunikasi, lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia akan terancam. Secara institusional, lembaga pendidikan dari Singapura dan Malaysia. Singapura sudah lama mengembangkan sumber daya manusia untuk menjadi knowledge employee. Malaysia dengan wawasan 2000. Philipina dengan kebiasaan mereka yang cukup lama di pasar kerja internasional akan menjadi pesaing yang pesat bagi Indonesia.
Berdasarkan data di atas dan persaingan yang semakin ketat, maka masalah yang muncul adalah menurunnya jumlah siswa yang ikut bimbingan belajar di lembaga bimbingan belajar Primagama Cabang Sutoyo Semarang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi strategi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga bimbingan belajar Primagama cabang Sutoyo Semarang.
Strategi Pemasaran adalah ilmu yang mempelajari pemasaran dan strategi melalui analisis, pilihan dan implementasi strategi yang diterapkan dalam bisnis atau industri.
Cara pengumpulan data melalui, observasi, analisis dokumen, wawancara. Jenis data yang diperoleh peneliti berupa, jumlah siswa Primagama cabang Sutoyo, jumlah sekolah yang berada di wilayah Primagama cabang Sutoyo, produk yang dihasilkan oleh Primagama cabang Sutoyo dan competitor (pesaing).
Analisis data dilakukan dengan teknik analisis SWOT (Strengths, Weakness, Oportunities and Threats). Setelah melakukan analisis semua variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, dapat digambarkan proses manajemen stratejiknya sebagai berikut.
Proses Manajemen strarejik
          Product    ------------>
          Price        ------------>        Kinerja
          Location   ------------>     Pemasaran
          Promotion ------------>
          People      ------------>
Penelitian ini mengambil lokasi di Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Cabang Sutoyo Semarang.
Variabel kebijakan manajemen yang akan dikaji dala penelitian ini meliputi:
1. Pruduct
2. Price
3. Location
4. Promotion
5. People
6. Jumlah siswa
Analisis SWOT pada Lembaga Bimbingan Belajar Primagama cabang Sutoyo Semarang sebagai berikut :]
1. Product
   Kekuatan :
   a. Memiliki berbagai macam program sehingga bisa memenuhi semua kebutuhan siswa.
   b. Program yang dibuat disesuaikan denga kurikulum siswa.
   c. Ada program yang dapat mengejar semua kurikulum siswa apabila siswa terlambat mengikuti di awal semester, misalnya program semester dua.
   Kelemahan :
   Programnya hampir sama dengan bimbingan belajar lain.
2. Price
   Kekuatan :
   a. Diskon untuk siswa yang program berikutnya.
   b. Diskon untuk yang mengambil program lebih dari satu.
   Kelemahan :
   Harga bimbingan mahal bagi siswa baru.
3. Place
   Kekuatan :
   a. Letak strategis karena di dalam kota.
   b. Dekat dengan SMP 3, SMA 1 dan SMA 3, SMA Teresiana yang merupakan sekolah-sekolah favorit, sehingga kualitas siswa yang dihasilkan siswa berkualitas.
  c. Anggapan banyak masyarakat bahwa Primagama cabang Sutoyo merupaka pusat primagamanya Semarang.
   Kelemahan :
   Dekat dengan Neutron dan Ganesha Operation.
4. Promotion
   Kekuatan :
  a. Lembaga Bimbingan Belajar Primagama cabang Sutoyo Semarang terkenal sebagai pusat lembaga bimbingan primagama di Semarang.
   b. Dana promosi besar, sehingga memungkinkan untuk menyebar dan mengadaka try-out.
   c. Nama besar Primagama sebagai lembaga bimbinga belajar terkemuka di Indonesia.
   Kelemahan :
   a. Promosi di lembaga Primagama dilakukan untuk semua cabang bukan tiap cabang.
   b. Kurangnya komitmen antar cabang.
5. People
   Kekuatan :
   a. Tentor-tentornya melalui proses seleksi yang ketat sehingga menghasilkan kualitas yang bagus.
   b. Rata-rata berasal dari universitas-universitas terkemuka dan guru-guru di sekolah favorit.



Analisis 2 :
ANALISIS EFEKTIFITAS IKLAN SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI PEMASARAN PERUSAHAAN PERCETAKAN DAN PENERBITAN PT RAMBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE EPIC MODEL
Yudi farola Bram

Perikalanan mendapat sorotan tajam semenjak aspek informasi menjadi bagian penting dalam bisnis, kegiatan periklanan yang efektif dipandang mampu mempengaruhi kecenderungan mengkonsumsi dalam masyarakat. Periklanan yang efektif akan mengubah pengetahuan publik mengenai ketersediaan dan karakteristik beberapa produk, elastisitas permintaan produk akan sangat dipengaruhi aktivitas periklanan.
Apakah iklan yang digunakan oleh perusahaan percetakan dan penerbitan PT Rambang sudah cukup efektif dipandang dari tingkat empathy (empati), persuasion (persuasi), impact (dampak) serta communication (komunikasi) di masyarakat?
Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas iklan yang sudah digunakan oleh PT Rambang sebagai salah satu strategi pemasaran yang sudah dilakukan.
Iklan secara komrehensif adalah semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor tertentu.
Alat bantu analisis yang digunakan adalah program aplikasi statistik yaitu software SPSS (Statistic for Product and Service Solution) for windows ver 11.5. Sebelum mengadakan penganalisisan dilakukan juga pengujian data untuk menjaga agar data yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa uji dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikutn :
1. Uji Validitas, digunakan untuk mengukur derajat ketepatan dalam penelitian tentang isi atau arti sebenarnya yang diukur.
2. Uji Reliabilitas, diartikan sebagai seberapa jauh pengukuran bebas dari varian kesalahan acak.
3. Uji Normalitas, digunakan untuk mengetahui apakah data dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak.
4. Analisis Tabulasi silang, data yang diperoleh diolah ke bentuk prosentase.
5. Skor Rata-rata, menjumlahkan seluruh hasil kali nilai masing-masing bobotnya dibagi dengan jumlah total frekuensi.
6. Analisis Regresi Linier, digunakan untuk mengetahui atau menganalisa pengaruh hubungan antara variabel tak bebas dengan satu atau lebih variabel bebas.
Variabel penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas iklan yang selama ini telah dilakukan PT Percetakan dan Penerbit Rambang. Indikator variabel yang akan diukur adalah empati, persuasi, dampak dan komunikasi. Tindakan yang digunakan dalam analisis dimana efektivitas iklan dengan tercapainya sasaran yang telah ditentukan sebelumnya oleh PT Rambang dan indikator-indikator yang dipakai dalam penelitian ini adalah empati. persuasi, dampak dan komunikasi dengan parameter riset EPIC (Empathy, Persuation, Impact and Communication).
a. Dimensi Empati, memberikan informasi yang berharga tentang daya tarik suatu merek. Empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi dirinya atau merasa dirinya pada keadaan perasaan atau fikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain, Kamus besar bahasa Indonesia, (1988:228).
b. Dimensi Persuasi, menginformasikan apa yang dapat diberikan suatu iklan untuk peningkatan atau penguatan karakter suatu merek, sehingga pemasang iklan memperoleh pemahaman tentang dampak iklan terhadap keinginan konsumen untuk membeli serta memperoleh kemampuan suatu iklan dalam mengembangkan daya tarik suatu merek.
c. Dimensi Impact, menunjukkan apakah suatu merek dapat terlihat menonjol dibandingkan merek lain pada kategori yang serupa dan apakah suatu iklan mampu melibatkan konsumen dalam pesan yang disampaikan.
d. Dimensi komunikasi, memberikan informasi tentang kemampuan konsumen dalam mengingat pesan utama yang disampaikan, pemahaman konsumen, serta kekuatan kesan yang ditinggalkan pesan tersebut.
Penelitian ini menggunakan desain riset deskriftif untuk menjelaskan efektifitas iklan Perusahaan Percetakan dan Penerbitan PT Rambang palembang terhadap upaya meningkatan volume penjualan di Perusahaan ini.
Tabel Variabel Penilitian



Analisis 3 :
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN PT GLOBAL INFORMASI BERMUTU (GLOBAL TV) JAKARTA DALAM  PERUBAHAN LOGO
Hadiono

Industri media masa adalah salah satu bidang usaha di Indonesia yang persaingannya sangat  ketat saat ini.  Era  industri televisi Indonesia dimulai oleh kehadiran Televisi Republik Indonesia (TVRI) tanpa iklan. Perkembangan televisi swasta Indonesia sendiri pada awalnya didorong oleh situasi monopoli di Televisi Republik Indonesia (TVRI) selama 27 tahun dan ketiadaan iklan di televisi sejak tahun 1980. Perkembangan itu mulai marak setelah keluarnya Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 111 tahun 1990.
Kehadiran stasiun televisi baru pada saat ini tentu saja telah menambah ragam pilihan bagi para pemirsa, tetapi dengan berkembangnya bisnis televisi swasta di Indonesia membuat tingkat persaingan antar industri sejenis semakin ketat. Persaingan tersebut berkembang kearah kepedulian konsumen sasaran mengenai produk di pasar atau program-program acara yang ditayangkan masing-masing stasiun televisi.  Karena sebuah stasiun televisi juga dituntut untuk memperkenalkan atau mempromosikan program-program acaranya kepada publik. Sehingga  tayangan acaranya ditonton banyak orang dan memperoleh rating atau Audience Share tinggi sehingga berdampak pada pemasukan iklan. Karena pendapat dari iklan bagi stasiun TV swasta merupakan pendapatan utama untuk kelancaran usahanya.
Salah satu cara adalah dengan melakukan strategi pemasaran (marketing strategy) yaitu suatu rencana yang didesain untuk mempengaruhi pertukaran dalam mencapai tujuan organisasi. Biasanya strategi pemasaran diarahkan untuk meningkatkan kemungkinan atau frekuensi perilaku konsumen. Hal ini dapat dicapai dengan mengembangkan dan menyajikan bauran pemasaran (marketing mix) yang diarahkan pada pasar sasaran yaitu elemen produk, promosi, distribusi dan harga.(Kottler, 2000: 35)
Sedangkan konsep yang secara umum sering digunakan  untuk menyampaikan pesan  adalah apa yang disebut sebagai bauran promosi atau komunikasi pemasaran. Disebut bauran promosi karena biasanya pemasar sering menggunakan berbagai jenis promosi secara simultan dan terintegrasi  dalam suatu rencana promosi produk. Terdapat 5 jenis promosi yang biasa disebut sebagai bauran promosi yaitu : Periklanan ( advertising), Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), Promosi Penjualan (Sales Promotion), Pemasaran Langsung ( Direct Marketing) serta  Hubungan Masyarakat dan Publisitas (Public Relations).
Tugas untuk menciptakan logo perusahaan biasanya menjadi tanggung jawab staf Public Relations karena hal ini menyangkut semua aspek dari organisasi secara keseluruhan, dan menjadi bagian sangat penting  dari total operasi yang dijalankan organisasi. Biasanya hanya staf Public Relations yang memiliki wewenang dan ruang gerak yang cukup luas sehingga bisa meliputi seluruh penjuru organisasi.
Fungsi logo itu sendiri sebagai pembeda antara perusahaan yang satu dengan yang lain. Logo dan citra perusahaan merupakan pembanding yang dipegang oleh publik atau khususnya konsumen dalam membedakan perusahaan yang satu dengan yang lainnya.
Obyek dalam penelitian ini  adalah strategi komunikasi pemasaran PT Global Informasi Bermutu (GlobalTV) Jakarta  dalam perubahan logo. Aspek komunikasi yang juga menjadi objek penelitian ini adalah komunikasi pemasaran yaitu merupakan usaha untuk menyampaikan pesan kepada publik terutama konsumen sasaran mengenai keberadaan produk di pasar. Konsep yang secara umum sering digunakan  untuk menyampaikan  pesan adalah  apa yang disebut  sebagai bauran promosi.
Berdasarkan sifat dari penelitian metode kualitatif, pengumpulan data dilakukan secara langsung dan tidak langsung yang relevan dengan melibatkan para informan khususnya orang-orang yang terlibat langsung dalam melakukan strategi komunikasi pemasaran di PT Global Informasi Bermutu ( GlobalTV ) Jakarta yaitu Direktur Operasional, Direktur Sales, Marketing & Program serta Direktur Pemberitaan. Juga melibatkan  beberapa  staf bagian Sales, Marketing & Program serta Bagian Pemberitaan PT Global Informasi Bermutu (GlobalTV) Jakarta.
Terdapat 5 jenis promosi yang biasa disebut sebagai bauran  promosi yaitu iklan, penjualan tatap muka, promosi penjulan, hubungan masyarakat dan publisitas serta pemasaran langsung.
Model  komunikasi pemasaran meliputi sender atau juga disebut sumber. Pertama kali pesan komunikasi datang dari sumber. Dalam pemasaran sumber berarti pihak yang mengirim pesan pemasaran kepada konsumen. Proses selanjutnya, yaitu pemasar menentukan  bagaimana pesan itu disusun agar bisa dipahami dan direspon secara positif oleh penerima dalam hal ini konsumen. Untuk itu ditentukan jenis komunikasi yang akan digunakan keseluruhan proses diri perancangan pesan sampai penentuan jenis promosi yang akan dipakai disebut proses encoding. Proses encoding disebut sebagai proses menterjemahkan tujuan-tujuan komunikasi ke dalam bentuk-bentuk pesan yang akan dikirimkan kepada penerima.
Proses selanjutnya, yaitu menyampaikan pesan melalui media. Jika pesan dirancang dalam bentuk iklan, maka pesan harus disampaikan melalui  media akan ditangapi oleh penerima, kemudian penerima akan memberikan respon terhadap pesan yang disampaikan. Pesan yang diterima diharapkan akan mempengaruhi perilaku konsumen. Proses memberikan respon dan menginterpretasikan pesan yang diterima disebut sebagai prose decoding. Proses decoding berarti penerima memberi interpretasi atas pesan yang diterima.
Proses decoding ini akan dilanjutkan dengan tindakan konsumen sebagai penerima. Jika pesan yang sampai diterima secara positif, maka hal ini akan memberikan pengaruh positif pada sikap dan perilaku konsumen. Sikap positif terhadap produk akan mendorong kepada pembelian. Oleh karena itu, pembentukan sikap positif terhadap produk sangat penting oleh pemasar.
Proses terakhir, yaitu Feedback (umpan balik) atas pesan yang dikirim. Pemasar mengevaluasi apakah pesan yang disampaikan  sesuai dengan yang diharapkan, artinya mendapat respon dan tindakan yang positif dari konsumen, atau justru pesan tidak sampai secara efektif. Pengukuran efektivitas pesan  ini dapat dilihat melalui tingkat penjualan, apakah mengalami peningkatan setelah penyampaian pesan tersebut dilakukan.
Berdasarkan perumusan  masalah dan kerangka pemikiran, maka dapat dirumuskan hipotesis kerja dalam penelitian ini sebagai berikut : Strategi komunikasi pemasaran PT Global Informasi Bermutu dalam perubahan logo adalah dengan Periklanan (Advertising), Promosi Penjualan (Sales Promotion), Tenaga Penjualan (Personal Selling), Pemasaran Langsung (Direct Marketing), dan Public Relations.
Sebagai stasiun televisi, GlobalTV dituntut melakukan perencanaan yang matang dalam proses praproduksi sehingga mampu bersaing dengan stasiun televisi yang lain. Karena proses praproduksi adalah sebagai langkah awal yang menentukkan dalam keseluruhan proses. Oleh karena itu diperlukan manajemen yang solid dan saling mendukung antar divisi.
Strategi yang dibentuk sesuai Model Komunikasi Pemasaran adalah :
1. Advertising, GlobalTV  dalam melakukan komunikasi pemasaran memanfaatkan Advertising yaitu lewat media majalah, radio, televisi, suratkabar, direct mail, dan periklanan luar rumah/ruang
2. Promosi Penjualan, dalam melakukan strategi komunikasi pemasaran GlobalTV melakukannya  dengan pemberian hadiah, special event, promosi amal, permaian/game, mengadakan kompetisi, sponsorship.
3. Tenaga Penjualan, GlobalTV melakukannya dengan presentasi ke Audiens, presentasi ke calon pemasang iklan dan  pelayanan langsung. menyampaikan presentasi tentang program-program acaranya kepada audiens, tentu saja penyampaian tersebut dilakukan dengan dibungkus suatu event yang menarik.
4. Pemasaran langsung, GlobalTV melakukannya dengan katalog, telepon,  faksimili, Pos dan pemasaran database. 5.Public Relations, GlobalTV melakukannya dengan Image Maker, Publisitas, memperkenalkan logo, Kampanye public relations,  manajemen krisis.
Data pendapatan  iklan stasiun Televisi Nasional, dimana terdapat pendapatan  iklan GlobalTV tahun 2005 sebelum perubahan logo  sebesar Rp. 1.248.129.000.000,- ( 7.70% dari pendapat iklan seluruh stasiun televisi nasional)  dan  tahun 2006 setelah perubahan logo yaitu sebesar Rp. 1.853.024. 000.000,- (9.00% dari pendapat iklan seluruh stasiun televsi nasional) : dilakukan Nielsen Media Research  kemudian diolah kembali oleh bagian Riset majalah SWA dimuat pada artikel dengan judul ”Bisnis Media : Menuju Konvergensi dan Go International”, oleh   Eva Martha Rahayu  di  SWA 20/XXIII/13-26 September 2007 halaman 58 – 60
Dari riset yang dilakukan  oleh Nielsen Media Research (SWA 20/XXIII/13-26 September 2007), strategi komunikasi pemasaran GlobalTV dalam perubahan logo mampu menaikkkan pendapat iklan GlobalTV sebesar 2,30% dari sebelum perubahan logo. Sedangkan menurut Executive Producer, GlobalTV, Cipta Panca laksana , ”Respon pemirsa, setelah adanya perubahan logo sangat bagus. Karena otomatis pemirsa bertambah, kalau dulu GlobalTV hanya digemari atau ditonton oleh pemirsa remaja, tapi sekarang pemirsanya juga dari para keluarga muda termasuk anak-anak. Rating acaranya terus naik dan pendapat iklan dibandingkan dengan sebelum perubahan logo lebih baik, walau kenaikkannya belum signifikan”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar