Kamis, 28 Oktober 2010

BIOGRAFI WIRAUSAHA SUKSES AYAM BAKAR MAS MONO


Para pencinta ayam bakar di Jakarta mungkin sudah tidak asing lagi dengan “Ayam Bakar Mas Mono”. Tempat makan yang sudah sering diliput berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Tempat makan yang berpusat di Jl. Tebet Raya no. 57 ini baru mulai didirikan tahun 2000 dengan modal awal hanya Rp 500000. Saat ini Ayam Bakar Mas Mono telah berkembang dan mempunyai tujuh cabang di Jakarta. Langganannya banyak dari kalangan artis, malah konon acara Empat Mata yang kesohor itu pun kerap memesan catering untuk crew dan pengisi acaranya dari sini.

Semua ini merupakan hasil kerja keras pria yang bernama lengkap Agus Pramono ini. Namun hanya berselang delapan tahun mas Mono mampu menjadi juragan ayam bakar yang omsetnya mencapai ratusan juta perbulan. Kisah perjalanan hidup mas Mono mirip cerita sinetron. Belasan tahun lalu, ketika pria kelahiran Madiun ini mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, ia memulainya dengan menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu ia beralih menjadi pedagang ayam bakar di pinggir jalan. Ternyata sukses. Kini mas Mono sudah menjadi miliarder yang memiliki banyak usaha.

Mas Mono hijrah dari Madiun ke Jakarta pada tahun 1994, setamat dari sekolah menengah atas di kota brem tersebut. Hanya berbekalnya ijazah SMA, mas Mono mengawali perjuangannya dengan menjadi office boy dan jualan roti pisang keliling. Di Jakarta ia bekerja sebagai karyawan restorant cepat saji California Fried Chicken sebagai cooker. Tiga tahun kemudian atau pada tahun 1997 ia keluar dari CFC, untuk memegang operasional rumah makan yang melayani jasa catering even-even khusus. Pada tahun itu, properti mengalami booming sehingga banyak sekali peluncuran perumahan-perumahan yang membutuhkan jasa catering. Dan pada akhir tahun 1997 atau awal 1998, krisis ekonomi mendera kawasan ASIA, termasuk Indonesia.Penyelenggaraan event-event yang semula booming, mulai lesu. Order yang mula antre, berubah total, nyaris tak ada satupun order yang masuk.

Mas Mono masuk barisan dari jutaan penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menyambung hidupnya, Mono menulis puisi dan membuat vinyet untuk dikirimkan kesejumlah media masa. Supaya puisi maupun vinyet itu bisa dimuat, ia antar sendiri puisi maupun vinyet itu ke redaksi.
Mas Mono berusaha untuk melamar ke sejumlah perusahaan. Namun tidak ada satupun lamarannya yang membuahkan hasil. Baru pada tahun 1998, dengan rekomendasi dari seorang temannya, ia diterima sebagai office boy di sebuah perusahaan konsultan. Pekerjaan mas Mono sehari-hari adalah menyapu, mengepel dan memfotocopi dokumen. Namun, disela-sela mengerjakan tugas pokoknya tersebut, mas Mono belajar untuk mengoperasikan komputer. Setelah berhasil mengoperasikan komputer ia mencari hasil tambahan dengan melayani jasa pengetikan skripsi.

Meski sudah berusaha keras untuk mendapatkan hasil tambahan, tetapi tuntutan ekonomi berkembang jauh lebih pesat sehingga mas Mono merasa posisinya sebagi karyawan tidak bisa dipertahankan lagi. Ia berfikir untuk keluar dan memulai usaha sendiri. Dengan modal yang pas-pasan membuat mas Mono berfikir keras, usaha apa yang cepat mendatangkan uang sehingga bisa menambal kebutuhan sehari-hari. Terlintas dibenaknya untuk membuat warung makan seperti yang berada di dekat kantornya. Namun dengan uang Rp 500000 di tangan jelas tidak cukup dijadikan modal untuk mendirikan warung makan. Dengan dana yang ada usaha jualan pisang cokelat merupakan pilihan yang masuk akal. Ia membelanjakan sebagian dari uangnya untuk uang muka membeli gerobak dan sisanya untuk membeli bahan baku. Mulailah mas Mono mendorong gerobaknya dan menjajahkan pisang cokelat dari satu sekolah dasar ke sekolah dasar lainnya.

Di tengah kesulitan hidup, mas Mono mengambil keputusan berani untuk menyunting pujaan hatinya, Nunung, yang kini telah memberinya buah hati Novita Anung Pramono. Pasangan muda ini hidup di satu kamar kontrakan dan tidur hanya beralaskan tikar tanpa kasur. Agar sedikit empuk maka mas Mono menganjal tikarnya dengan kardus-kardus bekas. Profesi sebagai penjual pisang coklat masih ia geluti. Kalau dagangannya masih sisa, maka pada sorenya ia berjualan di depan Universitas Sahid. Untuk meringankan beban suaminya, Nunung mengambil pekerjaan dari subkontraktor kardus sepatu.

Pada suatu hari di tahun 2000, mas Mono melihat ada lapak di depan Universitas Sahid yang tidak terpakai. Mimpinya untuk memiliki warung ayam bakar kaki lima kembali menyeruak. Didukung istrinya yang jago memasak, mas Mono mulai beralih profesi menjadi penjual ayam bakar. Pertama kali jualan mas Mono membawa 5 ekor ayam yang ia jadikan 20 potong. Pada waktu itu yang laku hanya 12 potong, Tetapi mas Mono sudah sangat bersyukur, bisa memiliki lapak saja rasanya seperti mimpi.
Kombinasi antara menu yang enak dan ketekunan, sedikit demi sedikit ayam bakar mas Mono membuahkan hasil. Hari demi hari, minggu berganti minggu, tahun beranjak tahun ayam bakarnya semakin laris. Warungnya yang semula hanya menghabiskan lima ekor ayam sudah mampu menjual 80 ekor ayam per harinya. Karyawan yang semula hanya satu orang bertambah menjadi beberapa orang.
Untuk menampung pelanggannya, mas Mono kembali membuka warung di jalan Tebet Timur Dalam. Lagi-lagi warung itu juga dipenuhi oleh pelanggan. Bukan hanya pelanggan lama, tetapi juga pelanggan baru, sehingga warung ini yang semula diniatkan menampung pelanggan lama, malah bisa memperluas pasar lagi. Kini keseluruhan warung mas Mono mencapai tujuh cabang.

Namun mas Mono sendiri mengaku sampai saat ini belum memiliki rumah dan mobil pribadi. Tiga mobil yang ia miliki adalah mobil operasional. Sedangkan rumahnya masih ngontrak. Sukses di mata mas Mono tidak harus memiliki rumah mentereng atau mobil keren, melainkan apa yang menjadi kebutuhannya terpenuhi. Kunci sukses, kata mas Mono adalah penerapan dari kata-kata mutiara yang sering diucapkan oleh banyak orang “dimana ada kemauan di situ ada jalan”. Mungkin kata-kata itu sangat sederhana dan mungkin setiap orang sudah tahu tentang itu. Tetapi kalau benar-benar di terapkan bisa menuntun hidup seseorang kearah yang lebih baik.

Sumber :
http://www.banyumurti.net/2008/02/kuliner-45-ayam-bakar-mas-mono-jakarta.html

2 komentar:

  1. saya Sugianto Haji Ali asal Manado,ingin sekali bekerja sama dgn mas Mono,,saya sangat terinspirasi dgn kisah mas Mono,dan kisah ini jadi motivasi untuk sy yg sudah lama ingin mebuka usaha tpi masih bingung usaha apa yg harus sy kembangkan.
    sbenarnya sy sdh ada sesuatu yg ingin sy kenalkan pada publik,mungkin ini sdh tdk asing lagi tapi siapatau masih ada yg kurang tau dgn ini,yakni 'Bubur Manado',Bubur Manado ini ingin saya kenalkan pada masyarakat luas,krna ini termasuk makanan khas sulawesi dan punya ciri khas unik yg mungkin blm banyak yg tau. dan saya berpikir bgamaina kalau Bubur Manado ini dipariasikan dgn ayam bakar,pasti akan ada kesan lain,namun ini hanya impian saya semata,jadi saya berharap ada respon dari mas Mono selaku pengusaha ayam bakar yg sukses agar berbagi kesuksesannya dgn saya.
    salam saya,Sugianto Haji Ali

    BalasHapus